Trimakasi anda sudah berkunjung di Opalima-Wene. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Latest Post

Warna-warni Toilet PAUD Maplima

Written By Frengky_Nayak on Selasa, 31 Oktober 2017 | 31 Oktober

Paud Maplima wamena papua.
Opalima-wene, Wamena Toilet baru di PAUD Anak Jalanan Maplima, Wamena, Papua yang dibangun dari hasil kampanye #BeraniMimpi Wahana Visi Indonesia (WVI). Pengecatan toilet juga dilakukan hari ini, Selasa (15/8/2017).
Toilet ini sudah mulai digunakan April 2017 oleh anak-anak PAUD, berjumlah 32 anak. *

Di Wamena Suami Tega Menghabisi Nyawa Istrinya


Foto: fb Silka huby
Opalima_wene_Wamena – Telah terjadi pembunuhan di Jalan JB Walesi, Wamena, Kabupaten Jayawijaya yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya sendiri dengan menikam sang istri berulangkali sehingga mengakibatkan korban tewas, Senin (30/10).
Kapolres Jayawijay, AKBP Yan Pieter Reba, mengatakan pelaku yang merupakan suami korban dengan inisial PK mengaku bahwa pembunuhan yang dilakukannya dipicu oleh masalah keluarga.
“Pembunuhan terjadi karena ada masalah dengan keluarga korban yang menahan korban dan tidak mau menyerahkan ke rumah pelaku, padahal pelaku sudah menyiapkan dua ekor babi untuk membayar denda adat akibat masalah rumah tangga yang sebelumnya terjadi. Pelaku sudah kita tahan,” katanya.
Menurutnya, dari hasil visum pada jenazah korban pembunuhan banyak terdapat luka tusuk sebanyak di dada, dan sayatan-sayatan di bagian lengan tangan.
“Keluarga korban memang tidak terima dengan aksi pelaku, namun kepolisian telah menangani kasus ini untuk diproses, sehingga saya minta warga menyerahkan kasus ini kepada kepolisian,” katanya.
Awal mula pembunuhan tersebut terjadi saat pelaku mendapati korban berboncengan dengan saksi menggunakan sepeda motor di Jalan JB Wenas dan dikejar oleh pelaku.
Pelaku meminta korban untuk naik ke motor untuk membanya pulang ke rumah. Di tengah perjalanan korban mengatakan akan menikah dengan orang lain. Hal tersebut langsung memicu amarah pelaku.
“Mendengar kata-kata korban (akan menikah), pelaku menghentikan motornya dan langsung mengeluarkan pisau lalu menikam korban. Polisi sempat membawa korban ke RS namun nyawa korban tidak bisa diselamatkan ketika dalam perjalanan,” katanya.
Saat ini pelaku telah diamankan di Polres Jayawijaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Dan sebentara pihak keluarganya korban masi berduka cita di kampung wamena papua.  (red,Cs)
#wamena #masalah rumah tangga.
Sumber: PapuaNewa
Posted : Ap aropaka

Froum Komunikasi Koteka Sally (FKKS) se-Malang Raya Gelar Penerimaan Mahasiswa/i Baru

Written By Frengky_Nayak on Senin, 04 September 2017 | 04 September

Foto: Dok Panitia
Malang, Opalima-Wene - - Panitia pelaksana (panpel) penerimaan mahasiswa baru (maba) Forum Koteka Sally (FKKS) se-Malang Raya melaksanakan penerimaan mahasiswa-mahasiswi baru tahun 2017 yang berlangsung selama tiga hari, Kamis (24/8/2017) hingga Sabtu (26/8/2017) di Villa Kota Batu Malang.

Baca Juga:

“ MENOLAK PERUBAHAN NAMA DEKENAT JAYAWIJAYA MENJADI PEGUNUNGAN TENGAH ”


Kegiatan ini dihadiri beberapa koordinator wilayah yang berada di bawah naungan FKKS, terdiri dari; Kabupaten Jayawijaya, Yalimo, Yahukimo, Mambramo Tengah, dan Tolikara, serta para undangan dan simpatisan.

Kegiatan yang bertema "Mempersiapkan Regenerasi Muda Yang Unggul" ini diawali dengan ibadah pembukaan yang dipandu oleh Amos Kobak, pembawa acara.

Di akhir ibadah pembukaan, penerimaan ini dibuka secara resmi oleh Yarsol Gombo, Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) FKKS se-Malang Raya.

Dalam sambutannya, Yarsol Gombo mengucapkan terima kasih kepada panpel dan semua koordinator FKKS atas kekompakan dan kebersamaan yang baik, sehingga penerimaan ini bisa berjalan dengan baik, meskipun sedikit sulit.

“Kami sebagai anak Koteka dan Sally, mari bergandeng tangan meraih kesuksesan di negeri orang atau pulau Jawa ini,” ajaknya.

Setelah itu, Denimus Gombo, ketua panpel penerimaan maba membacakan laporan pertanggung jawaban (LPJ) panpel.

Ia mengatakan, untuk menyukseskan kegiatan ini, berbagai usaha telah dilakukan panpel, di antaranya: jualan pinang, sumbanagan iuran wajib per koordinator wilayah, turnamen sepak bola mini, dan lain-lain.

“Dengan demikian, dari semua usaha di atas, kami mendapatkan hasil sebesar Rp. 9 Juta 6 ratus lebih. Dari total pemasukkan tersebut telah mengalokasikan ke setiap seksi guna untuk menyukseskan kegiatan yang dimaksud,” jelas Gombo.

Sementara, Alfred Pekei, Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (Ipmapa) Malang dalam sambutannya menyatakan dukungan atas kegiatan rutinitas tiap tahun FKKS ini. Karena menurut Pekei, FKKS adalah organisasi di bawah naungan Ipmapa. “Maka, kami turut mendukung,” katanya seraya berharap pengurus dan para senior FKKS selalu memberikan motivasi yang baik kepada maba agar berperan aktif dalam FKKS dan Ipmapa Malang.

Hari pertama, banyak pembekalan dan materi yang diberikan oleh senioritas Koteka Sally, yakni materi “Profil Organisasi” yang dibawakan oleh BPH Koteka Sally, “Etika Pergaulan dan Lingkungan” yang dibawakan oleh Yustinus Marian dan Frengky Alua, “Manajemen Waktu dan Uang” yang dibawakan Wesko Kogoya dan Otanus Kenelak, “Pengaruh Globalisasi” yang dibawakan oleh Piter Marian dan Sri Eliana Himan, “Profil Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)” yang dibawakan oleh Yohanes Giay, dan “Kesehatan” yang dibawakan oleh Dani Gombo.

Hari terakhir diisi dengan selingan dan outbound di lapangan. Outbound dipimpin Simeon Wilil, kordinator lapangan (korlap). Dalam outbound, Wilil menjelaskan ke maba, bahwa outbound dilakukan guna untuk membentuk mental yang kuat melalui game-game yang sudah ditentukan panpel dan korlap. “Maka, adik-adik bisa mengikuti dengan sungguh-sungguh,” pintanya.

Hingga akhir, penerimaan puluhan maba tahun 2017 ini berjalan dengan aman.

(Frengky Alua/Opalima-wene)

Kasus Deiyai, Papua : Penyelesaiannya tidak terbatas pada hukuman pelakunya

Written By Frengky_Nayak on Senin, 14 Agustus 2017 | 14 Agustus

Salah satu korban penembakan di Deiyai, Papua.

"Dalam sejumlah tanggapan atas “kejadian Deiyai” perhatian kita semua ditarik pada sejumlah unsur lain yang sangat penting dan yang akhirnya memungkinkan terjadinya penembakan seperti di Deiyai".



Oleh Theo van den Broek
MENGIKUTI perkembangan sekitar penembakan oleh aparat keamanan di Deiyai sudah tentu kami mengapresiasi sikap Kapolda dimana beliau sudah dengan jelas menyatakan bahwa tindakan-tindakan aparat keamanan di Deiyai benar-benar melanggar prosedur maupun hak-hak asazi manusia. Karena itu beliau sudah mengambil tindakan berupa penarikan sejumlah anggotanya yang selanjutnya akan menghadapi sidang pengadilan. Sekaligus sejumlah personil brimob baru sudah dikerahkan ke wilayah Deiyai. Syukurlah mereka yang terlibat dalam penembakan akan menghadapi pengadilan dan diharapkan proses itu pun akan transparan, terbuka dan suatu vonis yang mencerminkan sangat beratnya pelanggaran mereka akan dijatuhkan padanya.
Namun penyelesaian “kejadian Deiyai” belum rampung kalau hanya diperhatikan dari segi hukum seperti disebutkan diatas. Dalam sejumlah tanggapan atas “kejadian Deiyai” perhatian kita semua ditarik pada sejumlah unsur lain yang sangat penting dan yang akhirnya memungkinkan terjadinya penembakan seperti di Deiyai. Pertama-tama: dalam tanggapan Fr. Neles Tebay maupun dalam tanggapan Gereja Katolik melalui Bp Uskup Keuskupan Timika dan dalam tanggapan Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Gereja Kingmi kejadian di Deiyai dikaitkan dengan kejadian-kejadian sejenis di wilayah ini selama tahun-tahun terakhir ini. Jumlah ‘kejadian sejenis’ sangat banyak. Dengan kata lain ‘kejadian Deiyai’ ini bukan suatu ‘kasus terisolir’, suatu kejadian tersendiri. Ada banyak kejadian yang sifatnya sama, dan ternyata terulang kali menjadi pengalaman pahit masyarakat Papua dan bukan di wilayah Deiyai saja. Maka, ada sesuatu yang lebih struktural yang perlu diperbaiki kalau mau mengatasi pola kekerasan yang menjadi kenyataan sampai saat ini. Kedua: dalam segala pelaporan serta tanggapan diangkat suatu kaitan antara kehadiran perusahaan dan praktiknya mengandalkan aparat keamanan demi kepentingannya. Kaitan antara investor/perusahaan dan ‘aparat keamanan’ sudah cukup lama diangkat sebagai suatu persoalan yang sangat serius dan yang menghasilkan suatu peningkatan pelanggaran HAM di Papua secara nyata. Bukan saja di Paniai, namun sama persoalannya di Merauke, di Nabire dan pelbagai wilayah lain dimana investor cenderung bersandar pada pihak keamanan dan sebaliknya. Ketiga: suatu unsur yang tidak kalah pentingnya adalah penilaian terhadap pimpinan pemerintah sipil yang ternyata kurang berfungsi di sejumlah wilayah di Papua karena tidak hadir di tempat, karena kurang mampu dan/atau sudah terikat kepentingan pihak lain, dan dinilai lebih sibuk memperjuangkan ‘kursinya’ pada pemilihan berikut daripada melayani masyarakatnya. Terutama dalam tanggapan pimpinan Gereja Kingmi yang sangat mengetahui keadaan masyarakat di wilayahnya unsur ini sangat ditonjolkan. Kelesuan dan kelumpuhan di tingkat pemerintah sipil menyediakan ruangan seluas-luasnya bagi aparat keamanan untuk bertindak tanpa diawasi dan diarahkan. Keempat: dalam setiap demo/aksi damai berkaitan dengan kejadian di Deiyai, ungkapan utama berbunyi seperti ‘kami ditembak saja seakan tidak ada harga’,’kami diam ditembak mati, kami bicara ditembak mati’, ‘kami orang Papua dilahirkan untuk ditembak mati?’. Sudah tentu masyarakat orang Papua asli merasa – dengan alasan yang kuat - bahwa mereka tidak dihargai, tidak diakui, apalagi tidak diterima sebagai orang semartabat dengan warga manapun di Indonesia, dan tidak diakui sebagai ‘tuan rumah’ di Papua. 
Dengan memperhatikan keempat unsur struktural diatas ini sudah menjadi jelas bahwa tidak begitu mudah untuk menyelesaikan ‘kasus Deiyai’ karena kasus itu bukan suatu insiden tersendiri, namun suatu gejala dalam pola kebijakan umum yang turut ditentukan oleh keempat unsur yang disebutkan diatas. Dengan kata lain, kita menghadapi suatu masalah struktural yang juga hanya dapat diselesaikan secara struktural. 
Perlu diakui bahwa tidak ada resep yang mudah diidentfikasi untuk mengobati keadaan ini. Yang sangat dibutuhkan adalah kesiapan serta kemauan sejati (political will) segala pihak untuk mencari suatu jalan keluar bersama. Maka, perlu keterbukaan, kesediaan untuk mengakui bahwa memang ada suatu masalah struktural, untuk duduk setara dan membuka suatu dialog yang betul. Suatu dialog yang tidak dihalangi oleh suatu ‘mentalitas harga mati’ pihak manapun.
Intinya: persoalan di Papua tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan, tidak dapat diselesaikan dengan menenggalamkan ‘bangsa Papua’ kedalam lautan migran dan tidak dapat diselesaikan dengan menambah investor atau peningkatan infrastruktur.  Suatu penyelesaian persoalan di Papua hanya dapat diharapkan berdasarkan suatu pengakuan atas hak eksistensi kita masing-masing, penghargaan atas martabat setiap orang, atas hak kebebasan mengungkapkan pendapat, dan atas kemauan bersama yang ihklas untuk mencari kebenaran dan suatu solusi yang adil.  (*)
Penulis adalah pemerhati Hak Asasi Manusia, tinggal di Kota Jayapura

Mahasiswa Papua minta dukungan DPRD Gorontalo tuntaskan pelanggaran HAM

Written By Frengky_Nayak on Minggu, 13 Agustus 2017 | 13 Agustus

Mahasiswa Papua di Gorontalo menggelar aksi damai, Selasa ( 8/08/2017) meminta dukungan pemerintah kota Gorontalo menuntaskan berbagai pelanggaran HAM di Papua. 
Gorontalo, Opalima-wene - Seratusan  mahasiswa Papua yang tengah menempuh studi di Gorontalo, menggelar aksi damai, Senin siang (8/8) meminta dukungan DPRD Kota Gorontalo dalam penuntasan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua yang banyak melibatkan aparat TNI maupun Polri.
 
Massa aksi di bawah koordinasi Asosiasi Mahasiwa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia (AMPTPI) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) itu menggelar long march menuju kantor DPRD Kota Gorontalo. Aksi berjalan dengan tertib dan damai.
 
“Kami minta dukungan Pemerintah Gorontalo agar negara dapat mengadili pelaku pelanggaran  HAM di Papua, yang berlangsung sejak 1961 hingga sekarang,“ ujar  Delius Murib, salah satu koordinator aksi kepada Jubi di Gorontalo.
 
Menurut  dia, pelbagai pelanggaran HAM di Papua  mulai pemerkosaan hingga pembunuhan, hingga kini belum dituntaskan oleh pemerintah Indonesia.
  
Mereka juga menyoroti kasus pelanggaran HAM terbaru akibat penembakan warga oleh aparat Brimob di Kampung Oneibo, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, 1 Agustus lalu. 
 
Selain itu, pihaknya juga menolak tegas pembangunan markas Brimob dan pangkalan TNI/Polri di seluruh wilayah Papua. Juga menolak masuknya perusahaan dan transmigrasi ilegal ke seluruh wilayah Papua.
 
Hais Nusi, ketua komisi C DPRD Kota Gorontalo  yang menerima massa aksi mengatakan pihaknya siap mendukung penuntasan berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua.
 
Hal serupa disampaikan Wakil Wali Kota Gorontalo, Budi Doku, yang turut menerima massa aksi di DPRD setempat. “Kalau Papua terluka, Gorontalo juga ikut terluka,” ujarnya. 
 
Namun demikian, Budi Doku sempat mengkritisi penampilan aksi seorang mahasiswa Papua yang ikut dalam unjuk rasa.
 
“Ada satu pengunjuk rasa yang hanya pakai Koteka, Saya tahu itu adat di  Papua, tapi adik-adik mahasiswa Papua tolong menyesuaikan diri, jangan dipakai di Gorontalo yang juga punya adat sendiri,” katanya.(*)


Sumber :Tabloidjubi

#Ham    #kekerasan  #mahasiswa.

Mama Yohana Tembise: bangkitkan semangat lindungi anak-anak Papua

Menteri PPPA Yohana Tembise. Opalima/ist
ayapura, Jubi – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, berpesan agar masyarakat Papua senantiasa semangat dalam melindungi perempuan dan anak-anak, sebagai tanda telah menjaga Papua.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Yohana Yembise, di hadapan ratusan anak, guru, dan pemerintah daerah Jayapura dalam kegiatan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN) di Kota Jayapura. Menteri Yohana berharap kehadirannya dapat menginspirasi anak-anak Papua. 
“Angka kekerasan terhadap anak di tanah Papua masih tinggi. Sampai sekarang di tanah Papua belum ada satu yang mendapatkan penghargaan kabupaten/kota Layak Anak (KLA). Ini menunjukkan bahwa perhatian yang diberikan pemda, khusus kepada anak-anak masih sangat rendah," katanya, dikutip rilis publikasi dan media Kementerian PPPA, yang diterima Jubi, Rabu (12/8/17).
Oleh karena itu, tambahnya, Kementerian PPPA menyelenggarakan kegiatan ini untuk membangkitkan semangat pemerintah daerah agar lebih memperhatikan anak-anak Papua.
Menteri Yohana menjelaskan bahwa BERLIAN adalah program sosialisasi dan advokasi Kemen PPPA, dalam rangka mengakhiri kekerasan terhadap anak di berbagai wilayah di Indonesia. 
“Sebab, seluruh masyarakat harus sadar pentingnya mengawasi tumbuh kembang anak, memenuhi hak-hak mereka, dan melindungi mereka dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi," sampainya.
Ia mengapresiasi pemda yang berkomitmen melindungi perempuan dan anak di Papua, dengan menjadi mitra bersama Kemen PPPA menyelenggarakan kegiatan Bersama Lindungi Anak atau BERLIAN ini.
"Mama Yo, hadir di sini karena cinta dengan anak-anak Papua dan sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan anak di Papua. Papua harus berbenah agar bisa memenuhi 24 indikator Kabupaten/Kota Layak Anak dan  mendukung Indonesia Layak Anak pada 2030,” katanya.
Menteri Yohana didampingi Sekretaris Kemen PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu, memanfaatkan kegiatan BERLIAN untuk dapat menjalin kedekatan bersama anak-anak yang hadir dengan menyanyi, menari bersama, dan membagikan sejumlah hadiah pada sesi tanya jawab. 
Usai menghadiri kegiatan BERLIAN di Papua Trade Center, Menteri Yohana melanjutkan kunjungan di Jayapura dengan menghadiri kegiatan PUSPA (Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak), yang telah dilaksanakan sejak sehari sebelumnya. Di lokasi tersebut, Menteri Yohana melakukan dialog bersama lembaga dan sejumlah perwakilan masyarakat tentang permasalahan perempuan dan anak di wilayah Papua. (*)
Sumber :Tabloidjubi
Posted By:frengky

#Kementrian  #perempua  #Anak-anak.

Marinus dan Osvaldo masuk skuat utama Timnas SEA Games Malaysia

Aksi Osvaldo Hay saat Timnas U-22 menjalani latihan terakhir sebelum bertolak ke Malaysia menghadapi SEA Games/ opalima/ist
Jayapura, Opalima-wene - Dua pemain Persipura, Marinus Maryanto Wanewar dan Osvaldo Ardiles Hay terpilih dalam barisan Tim Nasional (Timnas) merah-putih yang akan berlaga di SEA Games Malaysia, 15-29 Agustus 2017 mendatang.
Marinus dan Osvaldo masuk dalam daftar 21 pemain yang diboyong pelatih Luis Milla. Sebelumnya skuat Garuda yang ikut TC berkekuatan 25 pemain.
Empat pemain harus dicoret, sebab kalah bersaing. Kepastian ini diumumkan pelatih asal Spanyol usai makan malam dengan pemain di Hotel Aryaduta, Karawaci, Jumat (11/8/2017).
"Ya kami akhirnya memulangkan empat pemain. Kami membawa 21 pemain ke SEA Games. Mereka tidak jelek, tapi ini kebutuhan dan regulasinya hanya boleh mendaftarkan 20 pemain. Ini bukan akhir dari segalanya, masih ada event seperti Asian Games atau laga FIFA Match Day," kata asisten pelatih, Bima Sakti dalam rilis PSS yang diterima Jubi.
Empat pemain tersebut adalah Ravi Murdianto dari PS TNI yang berposisi kiper, Bagas Adi Nugroho pemain Arema FC sebagai bek, serta dua gelandang Gian Zola dari Persib dan Miftahul Hamdi dari Bali United.
Pada ajang SEA Games 2017 nanti Timnas U-22 berada di grup B bersama Thailand, Vietnam, Kamboja, Timor Leste dan Filipina. Garuda Muda akan memulai laga perdana pada tanggal 15 Agustus 2017 melawan Thailand di Stadion Shah Alam, Selangor.
Garuda Muda julukan Timnas U-22 sudah bertolak ke Malaysia pada Sabtu (12/8/2017) menggunakan maskapai Garuda Indonesia pukul 08.35 WIB melalui Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.
Bima juga mengatakan pada sesi latihan terakhir lebih banyak fokus ke set piece. Latihan terakhir ini berlangsung hampir dua jam di lapangan Sekolah Pelita Harapan, Karawaci.
"Kami fokus latihan tersebut karena coach Luis Milla tidak mau terjadi lagi kesalahan-kesalahan waktu lawan Malaysia kemarin kan dua gol gara-gara set pieces.
Daftar nama 21 pemain Timnas U-22 yang dibawa ke Malaysia; Kiper: Kurniawan Kartika Aji (Persiba Balikpapan), Satria Tama (Persegres Gresik United), Mochammad Diky Indriyana (Bali United).
Belakang: Andy Setyo (PS TNI), Hansamu Yama (Barito Putera),  Ryuji Utomo (Persija), Putu Gede (Bhayangkara FC), Gavin Kwan (Barito Putera), Ricky Fajrin (Bali United), Rezaldi Hehanusa (Persija)
Tengah: M Hargianto (Persija), Asnawi Mangkualam Bahar (PSM), Hanif Abdurrauf Sjahbandi (Arema FC), Evan Dimas (Bhayangkara FC), Septian David Maulana (Mitra Kukar), Febri Haryadi (Persib), Osvaldo Hay (Persipura), Saddil Ramdani (Persela). Depan: Ezra Walian, Marinus Mariyanto (Persipura), Yabes Roni (Bali United). (*) 
Sumber : Tabloidjubi
Posted By:Frengky
#olaraga,   #ligaindonesia,  #sepak bola.

Persipura U19 siap hadapi Persiba

“Kami saat ini peringat kedua dari pimpinan klasemen Pusamania Borneo FC. Persipura nilai 4 dan PBFC nilai 6,” sebut Abdul Manaf merinci.

Jayapura, Opalima-wene – Skuat Persipura Jayapura muda siap menghadapi Persiba Balikpapan, sekaligus menargetkan poin sempurna.
Pelatih Persipura U19, Abdul Manaf saat dihubungi Jubi dari Jayapura menginformasikan, Mutiara Hitam saat ini menempati peringkat kedua klasemen sementara.
“Kami saat ini peringat kedua dari pimpinan klasemen Pusamania Borneo FC. Persipura nilai 4 dan PBFC nilai 6,” sebut Abdul Manaf merinci.
Pusamania Borneo FC poin 6 dari 2 kali menang dengan selisih gol (5-1). Persipura menempel peringkat kedua poin 4 hasil sekali menang dan sekali seri. Selisih gol (4-1).
Asisten pelatih Persipura U19, Thomas Madjar menambahkan setelah bermain seri pada laga perdana melawan Perseru. Tim bisa bangkit dilaga kedua mengalahkan Mitra Kukar 3-0.
“Anak-anak terus berbenah diri dan kita punya komitmen sekaligus bertekad siap memenangan pertandingan ketiga,” kata Thomas optimis.
Laga kedua tim yang akan berlangsung di Stadion Palaran, Samarinda sore ini, Senin (14/8/2017),. Merupakan babak lanjutan penyisihan grup 3 kompetisi U-19 yang digelar oleh PT Liga Indonesia Baru.
Sedangkan laga lainnya di hari yang sama, Senin (14/8/2017), Perseru Serui menghadapi Mitra Kutai Kartanegara. (*)

Kapolda Papua Minta Maaf untuk Penembakan Deiyai

Written By Frengky_Nayak on Rabu, 09 Agustus 2017 | 09 Agustus

Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar
Opalima-wene, Kota Jayapura – Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar minta maaf kepada masyarakat di Kabupaten Deiyai secara khusus, atas insiden penembakan yang terjadi di daerah itu.
Untuk mengusut tuntas kasus penembakan tersebut, Polda Papua telah membentuk tim yang dipimpin langsung oleh Kabid Propam Polda Papua dan Komnas HAM Papua, guna mencari fakta yang melatar belakangi tindakan polisi dan masyarakat pada saat kejadian.
“Kami akan menyelidiki, apakah penggunaan senjata api saat itu, telah sesuai dengan aturan polri tentang penanggulangan aksi anarki,” katanya, Jumat 4 Agustus 2017.
Dia mengklaim, waktu untuk penyelidikan dibutuhkan sekitar 4 hari. Ia berharap menemukan fakta-fakta yang mendekati peristiwa sebenarnya secara utuh.
“Kita bisa bahas bersama, untuk ditentukan langkah masing- masing, apa yang terjadi dari sisi masyarakat dan apa yang dilakukan oleh tindakan kepolisian,” kata Boy menambahkan.
Boy menambahkan, perlengkapan polisi dengan senjata api di Papua masih perlu dilakukan. Salah satu alasannya adalah Papua masih rawan akan kejahatan bersenjata. Anggota polisi juga dibekali dengan peluru tajam dan peluru karet.
Dia mengklaim, waktu untuk penyelidikan dibutuhkan sekitar 4 hari. Ia berharap menemukan fakta-fakta yang mendekati peristiwa sebenarnya secara utuh.
“Kita bisa bahas bersama, untuk ditentukan langkah masing- masing, apa yang terjadi dari sisi masyarakat dan apa yang dilakukan oleh tindakan kepolisian,” kata Boy menambahkan.
Boy menambahkan, perlengkapan polisi dengan senjata api di Papua masih perlu dilakukan. Salah satu alasannya adalah Papua masih rawan akan kejahatan bersenjata. Anggota polisi juga dibekali dengan peluru tajam dan peluru karet
“Peluru karet itu kalau ditembakkan bukan berarti tidak mematikan. Peluru karet juga memiliki potensi untuk mematikan. Yang tidak mematikan itu peluru hampa,” ujarnya.
Atas kejadian penembakan di Deiyai, polisi telah memeriksa 7 anggotanya dan 5 orang masyarakat. ***
Sumber: Kabarpapua.

Kapolsek Tigi Dicopot dari Jabatannya Pasca Penembakan Deiyai

Kapolsek Tigi, Iptu Mervin Mehue pengganti Iptu Maing Raini dalam sertijab di Aula Biro Sumber Data Manusia Polda Papua. 
Opalima-wene, Kota Jayapura – Kapolsek Tigi, Iptu Maing Raini dicopot dari jabatannya, pasca penembakan di Kampung Bomou, Kabupaten Deiyai.
Jabatan Maing digantikan oleh Iptu Mervin Mehue yang sebelumnya menjabat sebagai Kanit 5 Satuan Patroli Jalan Raya (PJR) Dit Lantas Polda Papua.
Pergantian jabatan Kapolsek Tigi dilakukan di Aula Biro Sumber Data Manusia (SDM) Polda Papua yang dipimpin langsung Kapolres Paniai, AKBP Supriyagung.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal menyebutkan pergantian Kapolsek Tigi sesuai dengan janji Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar yang menyebutkan bahwa dalam waktu 1 – 2 hari kedepan akan melakukan pergantian Kapolsek Tigi.
Untuk Kapolsek yang baru, merupakan perintah khusus dari pimpinan maka segera menyesuaikan di tempat tugas yang baru. Kapolsek baru juga diminta untuk tetap merangkul para tokoh yang ada di Kabupaten Deiyai dalam melakukan aktifitasnya.
“Kondisi Deiyai sudah kondusif. Kapolsek diharapkan dapat menjaga situasi ini, agar tidak terjadi hal-hal yang dapat mengganggu keamanan pasca kejadian,” jelasnya, Selasa 8 Agustus 2017 .
Saat ini, Iptu Maing Raini bersama dengan 7 anggota Brimob yang saat kejadian penembakan berada di lokasi kejadian sudah diperiksa Propam Polda Papua.
Sedangkan 7 senjata api yang dipegang oleh anggota Brimob saat kejadian sudah berada di Labfor, guna identifikasi.
Penembakan di Deiyaia menewaskan 1 orang atas nama Yulius Pigai dan 4 orang lainnya kena luka tembak. *** (*)
Sumber:Kabarpapua.co

Akhirnya Persipura Jayapura lepas Ricardinho Almeida

Written By Frengky_Nayak on Selasa, 08 Agustus 2017 | 08 Agustus

Ricardinho.
"Keputusan itu diambil setelah kami lakukan evaluasi, mendengar berbagai saran dan masukan, baik dari manajemen, pengurus tim, pelatih dan juga masukan dari beberapa pemain, akhirnya diputuskan untuk melepas pemain gelandang Ricardinho"
Jayapura (Opalima-wene) - Persipura Jayapura melepas salah satu pemain asingnya Ricardinho Silva de Almeida setelah melewati proses diskusi dalam evaluasi putaran pertama Go Jek Traveloka Liga I.

Ketua umum tim berjuluk Mutiara Hitam itu, Benhur Tommy Mano di Kota Jayapura, mengatakan manajemen bersama pengurus tim akhirnya memutuskan demikian setelah mendapatkan masukan dari jajaran tim pelatih.

"Keputusan itu diambil setelah kami lakukan evaluasi, mendengar berbagai saran dan masukan, baik dari manajemen, pengurus tim, pelatih dan juga masukan dari beberapa pemain, akhirnya diputuskan untuk melepas pemain gelandang Ricardinho," katanya.

Menurut dia, apa yang dilakukan oleh pemain Brasil itu telah banyak membantu tim dalam meraih sejumlah poin selama bersama Boaz TE Solossa dan kawan-kawan, bahkan membantu finish diperingkat tiga besar Go Jek Traveloka Liga I.

"Kami ucapkan terima kasih kepada Ricardinho selama berkostum merah hitam. Dia ikut membantu tim ini, dia juga sudah menjadi bagian dari keluarga besar Persipura Jayapura dan kami berharap dia segera dapatkan tim dan lebih berprestasi lagi," katanya.

Sebelumnya, juru bicara tim juara Torabika Soccer Championship (TSC) 2016, Bento Madubun mengatakan akan melakukan perbaikan tim termasuk mengambil keputusan terkait komposisi tim untuk putara kedua nanti, namun tidak disebutkan akan melepas pemain asingnya itu.

"Persiapan jelang putaran kedua akan dilakukan, terutama untuk perbaikan tim. Manajemen dan tim pelatih Persipura secepatnya akan mengambil keputusan terkait komposisi tim untuk putaran kedua," kata Bento. (*)                                                                 Sumber: Antara.

Pemkab Jayawijaya tambah lahan untuk RS Vertikal

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg Aloysius Giay, M.Kes.
 Dalam waktu dekat ini Pemkab Jayawijaya akan menambah tiga hektare lahan untuk rumah sakit vertikal, sehingga keseluruhan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan rumah sakit seluas 10 hektare
Jayapura (Antara Papua)- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya, Provinsi Papua, setuju menambah lahan untuk pembangunan rumah sakit vertikal yang dibangun oleh Kementerian Kesehatan di daerah tersebut.

"Dalam waktu dekat ini Pemkab Jayawijaya akan menambah tiga hektare lahan untuk rumah sakit vertikal, sehingga keseluruhan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan rumah sakit seluas 10 hektare," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg Aloysius Giyai, ketika dikonfirmasi dari Jayapura, Senin.

Menurut dia, Pemkab Jayawijaya sudah menyepakati pembayaran harga dengan pemilik tanah dan tokoh adat setempat.

"Pemilik hak ulayat sudah menyetujui penambahan lahan pembangunan rumah sakit tersebut, tinggal dibayar oleh Pemkab Jayawijaya," ujarnya.

Kini, lahan yang sudah didukung sertifikat untuk pembangunan rumah sakit tersebut seluas tujuh hektare.

Lahan pembangunan rumah sakit vertikal itu persisnya berada di Kampung Hom-Hom, Distrik Hom Hom, Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Sebelumnya dikabarkan Kementerian Kesehatan mulai membangun rumah sakit vertikal tipe B di Wamena, Kabupaten Jayawijaya

Pada Senin (31/7) di bawah pimpinan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr Untung memimpin 25 orang dari Kemenkes bersama Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes dr Bambang telah menerima sertifikat tanah pembangunan rumah sakit itu dari Pemerintah Daerah Kabupaten Jayawijaya diserahkan ke Kemenkes untuk memulai tahapan pembangunan. (*)
Posted by: Ap aropaka





,,Sumber: Antarapapua.




DPRD Jayawijaya buat perda perlindungan babi

Peternakan babi di wamena.
"Kami sedang mencoba mengeluarkan satu produk untuk melindungi hewan ternak babi karena babi dianggap sebagai benda budaya masyarakat Jayawijaya sebab biasa digunakan pada penyelesaian kasus pembunuhan, acara perkawinan bahkan perang juga didamaikan d"
Wamena (Opalima-wene) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jayawijaya,Papua sedang menyusun peraturan daerah (perda) tentang perlindungan hewan babi karena spesies itu merupakan kategori benda budaya yang sangat berharga bagi masyarakat pribumi di sana.

"Kami sedang mencoba mengeluarkan satu produk untuk melindungi hewan ternak babi karena babi dianggap sebagai benda budaya masyarakat Jayawijaya sebab biasa digunakan pada penyelesaian kasus pembunuhan, acara perkawinan bahkan perang juga didamaikan dengan babi. Oleh sebab itu, babi harus diberikan tempat yang terhormat sebagaimana benda budaya," kata anggota DPRD Jayawijaya, Reynald Bukorsyom di Wamena, Ibu Kota Jayawijaya, Senin.

Menurut dia, Raperda itu sedang didorong menjadi perda karena belakangan ini proses jual beli dan pemotongan babi di pasaran tidak sesuai budaya masyarakat Jayawijaya.

"Kalau di masyarakat adat, ketika babi dipotong, tulangnya tidak dihancurkan. Mereka potong di persendian-persendiannya. Tetapi yang kita lihat sekarang itu tidak sesuai dan banyak orang budaya menganggap bahwa terjadi pengurangan populasi babi itu karena kesalahan budaya tadi (pemotongan tidak sesuai budaya)," katanya.

Reynald menegaskan bahwa jika raperda itu sudah disahkan maka populasi babi di Jayawijaya akan meningkat sebab ada larangan bagi warga untuk tidak menjual induk babi produktif, serta melarang penjualan babi mulai dari umur empat bulan - satu tahun untuk dikonsumsi.

"Kita mencoba memberikan larangan sehingga kita bisa memproteksi populasi babi agar jumlahnya meningkat. Sebab kalau populasi babi di Wamena meningkat, otomatis harganya akan turun," katanya.

Ia juga mengatakan raperda itu akan dibahas dengan pakar hukum adat Universitas Cenderawasih di Kota Jayapura.

"Setelah itu, kita usulkan kepada bupati lewat tujuh fraksi untuk bisa dimasukkan dalam materi persidangan nanti," katanya.

Ia mengatakan pada Senin siang, DPRD telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat Jayawijaya tentang raperda tersebut dan masyarakat menyambut baik raperda inisiatif DPRD itu. (*)

Pemkab Jayawijaya promosi produk unggulan kepada Inggris

 "Pemberian kopi arabika, noken (tas anyaman dari kulit pohon), madu dan buah merah itu bagian dari promosi karena itu merupakan produk unggulan kita di sini"
Wamena (Opalima-wene) - Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua mempromosikan beberapa produk unggulan daerah itu kepada Pemerintah Inggris melalui cendera mata kepada Sekretaris II Bidang Politik di Kedutaan Inggris Robert Campbell Davis.

"Pemberian kopi arabika, noken (tas anyaman dari kulit pohon), madu dan buah merah itu bagian dari promosi karena itu merupakan produk unggulan kita di sini. Ke depan akan terus kita kembangkan," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Jayawijaya Yohanis Walilo di Wamena, Rabu.

Selain akan melakukan promosi melalui pejabat-pejabat tinggi yang datang ke Wamena, Pemkab Jayawijaya juga mengajak instansi terkait agar lebih giat memperkenalkan berbagai produk unggulan setempat kepada masyarakat luas.

"Sebab di Jayawijaya ini tidak ada potensi lain seperti tambang. Kita di sini hanya ada pertanian, perkebunan atau peternakan dan budaya sehingga harus dipromosikan agar memberikan manfaat bagi masyarakat Jayawijaya," kata Yohanis.

Kunjungan sekretaris duta besar Inggris untuk Indonesia ke Jayawijaya itu merupakan tindak lanjut kerja sama Pemerintah Inggris dan Indonesia pada sektor pendidikan.

Pemerintah Inggris akan membuka peluang bagi 80-an warga Indonesia pada Agustus untuk mendaftar dan kuliah gratis di Inggris.

Selain mengunjungi pejabat di Kantor Bupati Jayawijaya, Robert Campbell Davis juga mengunjungi Markas Besar Kepolisian (Mapolres) Jayawijaya. (*)

Sumber: AntaraPapua
Posted By: Ap aropaka.

Kebakaran kios di Waghete diduga hanya pengalihan isu tragedi Deiyai berdarah

Deiyai Berdarah.
Deiyai, Opalima-wene – Kebakaran 10 kios dan satu kantor pos pembantu di kampung Yomeni, Waghete, Deiyai, yang terjadi Sabtu (5/8/2017) dinilai hanya pengalihan isu atas tragedi Deiyai berdarah di kampung Oneibo, 1 Agustus 2017 lalu.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua I DPD KNPI Deiyai, Ones Madai, kepada Jubi, di Waghete, Senin (7/8/2017).
Ones mengatakan semua pihak terutama keluarga korban insiden penembakan di kampung Oneibo telah sepakat untuk tidak boleh satu orang pun yang merusak dan mengganggu aktivitas dimekarkan dari Paniai pada tahun 2009 itu.
Buktinya, menurut Ones Madai, saat penembakan terjadi semua pemuda tidak pernah ada gerakan tambahan terkait dengan insiden tersebut. Warga Deiyai hanya pasrah dengan isak tangis. Dengan keyakinan biarlah perbuatan itu akan dibalas oleh sang Khalik dan akan mendapatkan hukum yang setimpal dengan perbuatannya ini.
“Seluruh masyarakat di Deiyai lebih mendukung apa yang telah diputuskan oleh keluarga korban dan menjalani masa kedukaan dengan tenang. Makanya, tidak ada kerusakan satupun yang terjadi saat insiden tersebut,” ujar Madai.
Namun, selang tiga hari seelah kejadian penembakan, sejumlah kios dan satu buah barak kos-kosan dilahap si jago merah. Harta benda tak diselamatkan ketika api mulai menyala hingga menghabiskan semuanya.

BACA JUGA:
  Besok tim pencari fakta akan gelar tragedi degyai berdarah.

“Kami nyatakan bahwa kebakaran itu hanya pengalihan isu saja. Oleh karena itu, kita memahami antara pernyataan dari keluarga korban dan waktu tenggang terjadinya kebakaran,” ungkap dia sekaligus klarifikasi pernyataan Kabid Humas Polda Papua yang menyebut kebakaran itu kantor BRI Enarotali, padahal bukan itu.
Sementara, Niel Pekei, seorang saksi tragedi Deiyai Berdarah, mengatakan, pihaknya tidak pernah melakukan pembongkaran dan perusakan terhadap barang-banarg milik perusahaan Dewa yang sedang kerjakan jembatan di Oneibo. Buktinya ayam yang diberikan warga kepada karyawan perusahaan hingga saat ini masih ada di kandang camp.
“Perusakan camp dan alat berat oleh pemuda usai penembakan. Sebelum ada penembakan tidak tidak ada pengrusakaan. Apa yang kalian lihat ini terjadi (dirusak) setelah kejadian penembakan. Maka, tidak benar kalau ada perusakan terhadap camp,” tegas Niel Pekei di hadapan Bupati, DPRD, tim Mabes Polri, tim Polda Papua, Komnas HAM, dan masyarakat di Oneibo sebelum olah TKP, Sabtu, (5/8/2017). (*)

Sumber :Tabloid Jubi

Berita Pilihan

 
Support : Creating Website | Nayak Bloger Cominuty | Kansas_Nayak
Nayak Bloger Comunity © 2017. OPALIMA-WENE - All Rights Reserved
Creating Website Published by Frengky alua
Proudly powered by Nayak Bloger comunity