NOKEN YANG TERLUPAKAN…
![]() | |
| Noken asli papua |
Hampir rata rata wanita didunia
menyukai tas. Tak terkecuali para wanita di papua yang selalu memakai tas
dikait dikepalaya. Tas ini dikenal dengan sebutan Noken
Berbagai suku dipapua dan papua
barat menyebut noken dengan berbagai nama. Kayu digunakan sebagai bahan
baku juga berbeda beda. Ada kulit kayu pohon manduam, pohon nawa bahkan anggek
hutan. Noken berbhan benag nilon dan serat kulit kayu tersebut dijual dengan
harga rata rata Rp 100 ribu- Rp 300 ribbu tergantung ukuran. Waran warni nan
ceria dari tas ini menjadi kekhasan tersendiri dahulu bisa melambangkan
kedewasaan si perempuan itu. Karena permpuan papua belum bisa membuat
noken dia tidak bisa dianggap dewasa dan itu merupakan
syarat untuk menikah.
Sampai sampai noken papua
dinominasikan dalam daftar yang membutuhkan perlindungan mendesak karena
dianggap sebagai ikon khas papua yang mulai ditinggalkan masyarakat
1.
Bahan pembuatan noken asli(su)
Bahan bahan yang digunakan untuk membuat noken ini adalah:
- Serat kayu pilihan
- Biji tumbuhan yang digunakan untuk membuat warna pada serat kayu itu pada saat menganyam noken tersebut.
2. Cara pembuatan
noken asli (su)
Langkah langkah pembuatan noken adalah sebagai berikut:
- Mama dipapua akan pergi kehutan untuk mencari pohon yang mau diambil seratnya untuk membuat noken, hal ini sangat susah karena mama mama papua harus mencari pohon yang bisa diambil seratnya karena tidak sembarang pohon bisa diambil seratnya.
- Setelah mendapatkan pohon tersebut mama mama papua mulai kupas kulit pohon itu dan mengambil seratnya.
- Ambil seratnya lalu dikeringkan menggunakan sinar matahari ini membutuhkan beberapa hari untuk benar benar kering.
- Setelah serat kayu itu sudah kering mama mama papua mulai memungut semua serat kayu yang sudah dikeringkan tersebut.
- Mama mama papua mulai duduk dekat dengan tungku api dan mulai menyambung serat kayu yang sudah kering itu dengan debu dari sisa sisa pembakaran yang ada ditungku api kenapa harus menggunakan debu?supaya serat kayu tadi tidak mudah lepas atau serat kayu tersebut dengan sangat kuat, setelah itu mama mama papua mulai menggulung itu dipaha menggunakan debu sampai serat kayu itu benar benar tersambung antara satu sama yang lain dan pekerjaan ini sangat sulit bagi mama mama papua tapi mereka melakukan ini berulang ulang kali karena bagi mereka noken sangat penting dalam kehidupan kami.
- Digulung sampai panjang sesuai kebutuhan untuk membuat noken
- Tahapan berikutnya adalah mama mama papua mulai menganyam noken.
- Sambil menganyam noken mereka mulai mewarnai noken sesuai dengan selera mereka, mereka membuat sambil mewarnai supaya tidak semua memiliki warna yang sama.
- Menganyam ini membutuhkan waktu sesuai dengan ukuran noken.noken yang kecil membutuhkan 1- 2 minggu tapi ukuran besar 3 minggu.Setelah itu terjadilah noken yang sangat indah dan cantik.
![]() | |
| Putra putri papua |
3.
Fungsi noken asli (su) bagi masyarakat papua (wamena)
wanita di wamena merasa tidak
lengkap kalau tidak menggunakan noken, pada saat mereka melaksanakan
acara- acara adat dan pesta pesta adat dan juga acara pernikahan wanita
mereka harus menggunakan noken dikepala,kalau mereka tidak menggunakan
noken mereka merasa tidak lengkap. Ini adalah adat dari turun temurun
(nenek moyang).
Noken ini bagi perempuan di
pedalaman biasa digunakan menyimpan anak bayi, babi,umbi-umbian,sayur, san
pakaian. Sering dilihat didalam sebuah noken dengan tali digantung dibagian
kepala mengarah kebagian punggung dan belakang perempuan. Didalam noken ini
kadang-kadang disimpan bayi dan disampingnya diletakkan umbi-umbian dan
sayur-sayuran
Noken berbentuk seperti tas. Noken
merupakan warisan suku-suku yang termasuk ras Melanesia yang ada di Papua.
Setiap suku di Papua memberi nama sendiri untuk tas multifungsi ke dalam bahasa daerah masing-masing. Tetapi Noken cukup unik karena nama tersebut digunakan di seluruh daratan Papua. Warga yang berdiam di Papua, baik yang berambut lurus maupun berambut keriting, sudah mengerti benda yang disebut.
Setiap suku di Papua memberi nama sendiri untuk tas multifungsi ke dalam bahasa daerah masing-masing. Tetapi Noken cukup unik karena nama tersebut digunakan di seluruh daratan Papua. Warga yang berdiam di Papua, baik yang berambut lurus maupun berambut keriting, sudah mengerti benda yang disebut.
pedesaan atau pegunungan Papua untuk
membawa hasil kebun, kayu api, atau ternak yang dipanen dari kebun untuk dijual
di pasar atau sebaliknya. Pelajar dan mahasiswa juga banyak yang menggunakan
Noken, berukuran kecil, untuk membawa buku dan alat tulis.
Kaum bapak memanfaatkan Noken untuk membawa buah pinang, sirih, maupun tembakau ketika hendak bersosialisasi dengan teman dan kerabatnya. Sedangkan kaum ibu memfungsikan Noken sebagai gendongan bayi atau baby carrier. Seorang ibu kadang membawa dua buah Noken bahkan lebih. Saat menggendong bayi, beban tidak berada di pundak. Ujung tas Noken ditempatkan di atas kepala yang dekat bagian dahi
Kaum bapak memanfaatkan Noken untuk membawa buah pinang, sirih, maupun tembakau ketika hendak bersosialisasi dengan teman dan kerabatnya. Sedangkan kaum ibu memfungsikan Noken sebagai gendongan bayi atau baby carrier. Seorang ibu kadang membawa dua buah Noken bahkan lebih. Saat menggendong bayi, beban tidak berada di pundak. Ujung tas Noken ditempatkan di atas kepala yang dekat bagian dahi
Pekerjaan menggendong bayi tidak
hanya dilakukan di dalam rumah. Seorang ibu kerap terlihat bekerja di kebun,
menanam ubi-ubian atau kentang, sambil “memanggul” anaknya di kepala. Para ibu,
akrab disapa mama, memang terbiasa melakukan multitugas rumah tangga. Bak
peribahasa, sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.
Kebiasaan membawa beban di kepala bukanlah hal baru. Sejak masa kanak-kanak, mereka terbiasa membawa beban dengan berjalan kaki naik-turun perbukitan. Tak heran jika otot-otot di sekitar leher mereka terlihat cukup kekar dan kuat.
Ada suku tertentu yang menganggap Noken sakral dan dianggap sebagai lambang kesuburan. Bahkan, ada yang menambahkan Noken sebagai mas kawin.
Kebiasaan membawa beban di kepala bukanlah hal baru. Sejak masa kanak-kanak, mereka terbiasa membawa beban dengan berjalan kaki naik-turun perbukitan. Tak heran jika otot-otot di sekitar leher mereka terlihat cukup kekar dan kuat.
Ada suku tertentu yang menganggap Noken sakral dan dianggap sebagai lambang kesuburan. Bahkan, ada yang menambahkan Noken sebagai mas kawin.
Bagi orang papua lebih khusus
kabupaten jayawijaya noken sangat berharga bagi masyarakat ini karena ini
adalah peninggalan nenek moyang. Noken bisa berfungsi untuk mengisi sayur, umbi-umbian,
kayu bakar dan untuk mengendong anak dan banyak fungsinya noken dibuat dari
bahan tradisional dari tumbuhan yang ada dihutan. Noken ini juga sangat
berfungsi pada saat pesta adat dan acara-acara seperti acara pernikahan dan
lain-lain.
Sumber :Kemagwe_kansas


